Opini

Wayang dan Masa Depan Pesantren

Administrator | Sabtu, 05 Mei 2012 - 11:07:17 WIB | dibaca: 242 pembaca

Oleh : Imdad Fahmi Azizi
 
Wayang merupakan salah satu budaya adiluhung yang sangat disakralkan oleh sebagian  masyarakat kita. Dalam dunia wayang digambarkan nilai-nilai kebudayaan yang patut diaplikasikan sebagai sikap dan perilaku kita sehari-hari. Di dalamnya tersimpan berbagai nilai tentang kebajikan, keadilan, kejujuran, hingga nilai-nilai universal lainnya.

Menurut M.Smithes, seorang pemerhati budaya Indonesia asal Australia, puppet (wayang) merupakan sebuah analogi dari skenario politik. Bahkan, masih menurutnya, dunia  wayang juga terkait dengan psikologi, moral, hingga sampai pada hakikat hidup sekalipun. Sehingga tidak mengherankan jika UNESCO, salah satu badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang mengurusi tentang pendidikan dan kebudayaan, menjadikan wayang warisan budaya dunia yang wajib dipelihara.

Ada tiga hal kekuatan wayang (the power of puppet) yang membuat dunia wayang terus eksis hingga saat ini. Pertama, hamat. Hamat merupakan karakter dari wayang yang bersifat terbuka dan menerima adanya pengaruh-baik yang berasal dari dalam maupun berasal dari luar dunia wayang itu sendiri. Kedua, hamong. Hamong adalah kemampuan untuk memfilter elemen yang masuk agar cocok dengan nilai-nilai wayang dan sesuai dengan perkembangan zaman (akulturasi budaya), namun sama sekali tidak dapat merubah akan esensi dalam diri wayang tersebut. Ketiga, hamemangkat.

Hamemangkat adalah sebuah pencapaian (progress value) yang menjadi nilai dan paradigma baru yang diperoleh melalui proses panjang, sehingga tercipta apa yang dikenal dengan way of thinking (mainstream atau cara pandang) dalam suatu masyarakat. Lalu apa hubungannya filosofi wayang tersebut bila kita kaitkan dengan masa depan pesantren? Di sini yang menarik kita perhatikan bersama.

Pesantren adalah tempat belajar para santri yang berasal dari bahasa sansekerta, sastri, berarti seseorang yang ahli kitab suci. Menurut Nurcholis Madjid (Cak Nur), pesantren adalah warisan tua kebudayaan Nusantara (indogenous culture). Meminjam istilah KH D Zawawi Imron-ketika berdiskusi dengan penulis, pesantren adalah soko guru kebudayaan Indonesia.

KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) menyatakan bahwa pesantren adalah sub-kultur masyarakat. Menurut Gus Dur dalam buku Menggerakkan Tradisi (2010), sebagai subkultur, pesantren memiliki cara hidup (life pattern) tersendiri, pandangan hidup (mores) dan tata nilai berupa literatur universal (kitab kuning) yang diikuti (internal authority) warganya, serta hirarki kekuasaan intern tersendiri (kiai) yang ditaati sepenuhnya. Artinya, khazanah turats dalam dunia pesantren mengajaknya untuk terus melek terhadap dunia ilmu pengetahuan (sains, tak terkecuali).

Pesantren juga benteng akidah Islam, pesantren juga pusat kultural (peradaban). Dalam artian, pesantren merupakan institusi pendidikan tertua di Indonesia. Pesantren adalah warisan kebudayaan Islam di Indonesia yang sangat mahal dan berarti. Kalau kita refleksikan, ada titik sinergitas antara ajaran wayang dan masa depan pesantren.

Dalam menghadapi era globalisasi dan modernisasi ini, hal paling dasar yang wajib dilakukan oleh pesantren ini adalah sifat terbuka bagi tantangan zaman (hamat), terutama yang terkait dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Artinya, dalam kajian pesantren salaf maupun khalaf-sebagaimana yang dijelaskan oleh Prof.Dr.Faisal Ismail (2004), maka modernisasi pesantren dalam hal kompetisi sains adalah sebuah keniscayaan

Dalam praksisnya, banyak pesantren yang terjebak dalam dikotomi tersebut (salaf dan khalaf), sehingga tidak maju-maju. Dalam teori peradaban-sebagaimana yang dikemukakan Nurcholis Majid (1992), kita juga harus meniru kebudayaan bangsa lain yang lebih maju. Seperti yang dicontohkan oleh masyarakat Amerika Serikat (AS) yang terkenal dengan disiplinnya dan masyarakat Jepang yang terkenal dengan etos kerjanya yang tinggi (bushido).


Selanjutnya, selain sifat terbuka tersebut, pesantren juga harus melakukan apa yang kemudian disebut dengan hamong, yakni filterisasi terhadap sesuatu (perkembangan) yang baru. Dalam kajian tentang kebudayaan (cross culture understanding), hendaknya pesantren menepis hal-hal asing yang bertentangan dengan tradisi kepesantrenan. Ringkasnya, tidak semua kebudayaan masyarakat yang maju kita tiru, melainkan perlu kita lihat terlebih dahulu.

Amerika Serikat (AS) sebagai contoh, walaupun negara terdepan dalam hal peradaban dan ilmu pengetahuan, tetapi dalam hal kehidupan sosial (budaya permisif) tidak luput dari kritikan. Terutama budaya-budaya liberal seperti pergaulan bebas (free intercourse), narkotika, dan lain sebagainya, yang itu mengakibatkan kehancuran mereka sendiri sebagaimana yang diprediksi para filosof kesejarahan seperti Spengler, Lewis Mumford, Toynbee, dan lain sebagainya.

Apabila pesantren melakukan dua terobosan tersebut, maka, keberadaan pesantren akan sangat diperhitungkan (hamemangkat). Karena akan tercipta kebudayaan yang kuat sebagai ciri khas pesantren disatu sisi dan ketinggian penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi  disisi lain. Substansi salaf dan khalaf akan menjadi suatu keseimbangan dan kekuatan, seperti pondok pesantren Sidogiri (Pasuruan) dan pesantren Nurul Jadid (Proboinggo) misalnya, yang senantiasa menjaga warisan tradisi lama (kitab kuning/turats) dan tetap melek terhadap perkembangan sains-walau dengan senantiasa memfilternnya melalui penjagaan moral.


Dalam bahasa pesantren, motto al-muhafadzotu ala al-qodimi as-sholih wa al-akhdu  bi al- jadidi al- ashlah (melestarikan tradisi lama yang baik dan mengambil tradisi baru yang lebih baik) semakin terwujud.              
            
* Penulis adalah “ Biting Fans Club ” dan pemerhati kebudayaan, warga Candipuro Lumajang. Email; aifa.azizi@gmail.com










Komentar Via Website : 0


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)