Sejarah

"Celeng" Dituduh PKI, Adik Serta Keponakannya yang masih SMP di eksekusi

Administrator | Minggu, 30 September 2012 - 03:18:23 WIB | dibaca: 932 pembaca

Tahanan PKI

Reporter : Lutfia Amerta Sanjiwani

Lumajang, Di sebuah ruang tamu sederhana yang tak terlalu luas di Desa Karanganom, empat hari yang lalu Selasa (25/09/2012) Alim (67) menceritakan perihal peristiwa sekitar 47 tahun yang lalu. Pria yang sudah sepuh ini telah mengalami keras dan pahitnya pergolakan berdarah pada tahun 1965, mencoba mengingat peristiwa masa lalu yang penuh dengan jerit tangis dan kesedihan yang tak tertahankan. Ini tampak dari matanya yang nanar menerawang kosong membayangkan masa lalunya yang kelam.

“Saya saat itu gak tahu apa-apa,  tiba-tiba ditahan di kantor polisi selama 5 bulan pada akhir tahun 1965,” papar Alim kepada Pedomannusantara.com.

Alim 47 tahun yang lalu tepatnya beberapa bulan setelah gerakan 30 September  1965 PKI meletus di Jakarta dengan ribuan warga LUmajang lainnya ditangkap oleh aparat keamanan dan dijebloskan ke dalam bui.” Selama di dalam penjara saya tidak pernah diadili dan ditanyai. Anehnya saya dan orang-orang yang dipenjara kala itu tak tahu apa salah kami sampai kita di tahan,” papar Alim.

Alim menuturkan saat dirinya ditahan dan dipindah-pindahkan ke beberapa tempat mulai dari Senduro hingga Ke Lumajang. Alim pada waktu itu memang tidaklah terlibat kegiatan kepartaian apapun dan masih duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA), mungkin karena "Celeng", Pamannya yang saat itu menjadi Kepala Desa Karanganom  setelah peristiwa G 30S/ PKI dicari oleh aparat keamanan karena di duga sebagai anggota PKI.

“Adik dari Ibu saya yang bernama Joyo Pranoto atau lebih dikenal dengan nama Pak Celeng memang dituduh sebagai anggota PKI, kami sendiri dari pihak keluarga sampai saat ini tidak mengetahui dimana keberadaan paman saya itu,” papar Alim.

Selain Paman Alim yang bernama Joyo Pranoto dan Alim, kakanya yang bernama Mulasan  serta adiknya yang bernama Rohmat juga menjadi sasaran kemarahan warga karena dituduh terlibat PKI.

“Kakak saya bernama Mulasan yang pada waktu itu menjabat sebagai Sekretaris Desa pun tak luput dari amarah warga. Sepulang dari mengikuti rapat Persatuan Pamong Desa Indonesia PPDI dia dijemput paksa oleh warga dan dieksekusi dengan tuduhan menyimpan Wiji yang merupakan Gembong PKI Lumajang yang merupakan buron paling dicari,” papar Alim.

Menurut kesaksian Alim, tidaklah benar bahwa kakaknya menyembunyikan Wiji. Wiji yang saat itu berusaha mencari tempat persembunyian berusaha masuk kedalam rumah Mulasan. Mulasan yang tidak tahu bahwa itu Wiji sang gembong PKI, mendorong lelaki yang tidak dikenalnya untuk menjauh dari areal rumahnya. Naas betul memang nasib Mulasan karena aksinya mendorong Wiji ini diketahui oleh masyarakat dan setelah itulah Mulasan pun dicap sebagai PKI dan sebagaimana lazimnya seorang yang dianggap anggota PKI waktu itu Mulasan pun segera dieksekusi.

“Selain paman dan kakak saya, adik saya yang bernama Rohmat pun ikut jadi korban tuduhan sebagai anggota PKI, padahal waktu itu Rohmat masih kelas 2 SMP. Bocah yang tidak tahu menahu soal kepartaian  itu juga ikut eksekusi oleh massa, kasihan adik saya,” Kenang Alim.

“Rohmat waktu itu diambil oleh massa ketika pulang dari memancing di sungai. Sebelumnya tetangga yang kasihan terhadap Rohmat menasehati Rohmat untuk segera keluar dari Lumajang. Para tetangga memang sudah mendengar desas-desus bahwa Pak Celeng dan tujuh turunan harus dihabisi,” papar Mujeni (64) yang merupakan istri Alim yang siang itu ikut mendampingi suaminya ketika menerima reporter Pedomannusantara.com.

Alim sendiri lebih beruntung daripada kakak dan adiknya, karena dirinya dijadikan tahanan tanpa alasan dan diadili. Selama 5 bulan lamanya Alim mendekam dalam dinginnya hotel prodeo dan selama di dalam tahanan Alim selalu was-was akan dieksekusi.

” Setiap ada panggilan untuk keluar dari penjara itu bertanda bahwa narapidana yang disangka sebagai anggota PKI akan dieksekusi . Saya sendiri berkali-kali sudah dipanggil keluar dari penjara akan tetapi Allah masih melindungi saya, saya dikembalikan lagi ke dalam penjara dan tidak diikutkan dalam truk yang berisi narapidana yang akan dieksekusi,” ujar Alim.

Bagi Alim, peristiwa 47 tahun yang lalu merupakan sejarah paling kelam dalam hidupnya. Selain dirinya harus mendekam dalam penjara, ia juga harus kehilangan pula saudara-saudaranya.” Itu semua adalah cobaan dalam hidup saya, Allah telah menggariskan semuanya itu dalam kehidupan keluarga besar saya. Sebagai hambanya saya harus menerima semua itu serta tidak boleh menyimpan dendam terhadap orang-orang yang menuduh kami PKI,” pungkas Alim lirih. (lut/pim)

Foto Ilustrasi: http://www.google.co.id/imgres?q










Komentar Via Website : 0


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)